Menggali Potensi Efisiensi Energi di Industri

07-October-2011

Sanur, Bali 4 Oktober 2011- Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyelenggarakan Pekan Efisiensi Energi untuk wilayah Bali dan sekitarnya.  Acara ini akan berlangsung dari tanggal 4 – 7 Oktober 2011 di Bali World Peace Park, Desa Kertalang, Sanur, Bali yang dihadiri oleh Mr. Tim Mac Hansen, Counsellor-Trade and Development, Royal Danish Embassy, Ir.Maryam Ayuni – Direktur Konservasi Energi, Kementerian ESDM dan Bp. Djinaldi Gosana, Executive Director of Bali Hotel Association.


Pekan Energi Efisiensi di Bali ini diselenggarakan dengan dukungan dari Pemerintah Denmark, dalam bentuk kerjasama antar-pemerintah melalui kegiatan Energy Efficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS) serta International Financing Corporation (IFC). Bali adalah kota ketiga setelah Jakarta dan Makassar dari rangkaian kegiatan Roadshow Pekan Efisiensi Energi yang akan berlangsung di sembilan Propinsi di Indonesia.


Pekan Efisiensi Energi akan diselenggarakan selama empat hari. Kegiatan hari pertama ditujukan untuk eksekutif / top manajemen perusahaan untuk meningkatkan pemahaman mengenai potensi efisiensi energi di industri. Sedangkan kegiatan hari kedua hingga keempat ditujukan bagi manajer energi sebagai pembekalan untuk mekanisme sertifikasi manajer energi tingkat nasional. Pekan Efisiensi Energi di Bali akan di hadiri oleh 60 top manajemen dari 30 perusahaan, serta penggiat bangunan dan energi seperti konsultan arsitek, konsultan MEP dan kontraktor, serta 30 manajer energi.


"Rasio cadangan minyak dan produksi tinggal 23 tahun lagi, kita perlu melakukan konservasi energi. Selain itu, permintaan energi juga meningkatkan beban subsidi energi. Subsidi harga energi merupakan bentuk ketidakadilan energi bagi masyarakat. Penerima subsidi bukan saja masyarakat di daerah terpencil, tetapi juga rumah tangga kelas menengah dan industri. Padahal masih banyak masyarakat di daerah terpencil belum mendapatkan akses energi. Melalui visi 25/25, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral berambisi menekan laju konsumsi energi pada tahun 2025 sebesar 33.85 percent dari skenario Business-as-Usual", kata Ir. Maryam Ayuni - Direktur Konservasi Energi, Kementerian ESDM saat membuka acara.


“Memperkenalkan efisiensi energi merupakan elemen yang sangat penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus untuk mengurangi produksi energi - sehingga menjadi tujuan yang sangat ekonomis dan bermanfaat dalam mengurangi pengeluaran pemerintah secara keseluruhan. Denmark telah melakukan efisiensi energi selama jangka waktu yang cukup lama, sehingga memungkinkan kami untuk memiliki pengetahuan yang luas, teknologi dan sistem untuk meningkatkan efisiensi energi. Pengetahuan tersebut tidak hanya bisa digunakan di Denmark tetapi juga di Indonesia dimana perusahaan-perusahaan Denmark sudah ada di Indonesia.”, menurut H.E. Borge Petersen, Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia.


Adapun, pengguna energi terbesar adalah sektor industri dengan pertumbuhan 39,6% di tahun 1990 menjadi 51,86% pada tahun 2009, atau lebih dari setengah penggunaan total energi nasional. Pengguna terbesar berikutnya adalah sektor transportasi dengan 30,77%, diikuti dengan sektor rumah tangga sebesar 13,08% dan sektor komersial sebanyak 4,28%. (Sumber: Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2010).

Sementara itu Bp. Djinaldi Gosana, Executive Director of Bali Hotel Association mengatakan, “Sebagai salah satu tujuan wisata unggulan di Indonesia, Bali sangat memerlukan pasokan energi untuk dapat beroperasi. Menyadari hal demikian, sebagian besar komponen pariwisata Bali terus berupaya aktif untuk mengurangi pemakaian energi di lingkungan kerjanya masing-masing, melalui program energi konservasi.” 


Pekan Energi Effisiensi ini adalah salah satu kegiatan untuk mensosialisasikan efisiensi dan konservasi energi di Indonesia. Peran aktif ini dilakukan oleh Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI) yang diluncurkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral didukung oleh Pemerintah Denmark melalui DANIDA (Danish International Development Assistance) pada bulan Maret 2011 lalu. Untuk mengembangkan program efisiensi dan konservasi energi di Indonesia, pemerintah Denmark melalui Kedutaan Denmark di Indonesia, telah memberikan bantuan dana sebesar kurang lebih US$ 10 Juta untuk kurun waktu empat tahun program.

Tags: Pekan Efisiensi Energi, Bali, Industri, auditor energi, audit energi, manajer energi