Pekan Efisiensi Energi di Medan

21-February-2012

SIARAN PERS

Menggali Potensi Efisiensi Energi Industri di Wilayah Sumatera Utara
Roadshow Pekan Efisiensi Energi Kunjungi Medan

Klik untuk download semua materi pada hari ini.

Medan, 21 Februari 2012 - Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyelenggarakan Pekan Efisiensi Energi untuk wilayah Medan dan sekitarnya.  Acara ini akan berlangsung dari tanggal 21 – 24 Februari 2012 di Grand Swissbel Hotel Medan yang dihadiri oleh Mr. Tim Mac Hansen - Counsellor-Trade and Development Royal Danish Embassy, Ir. Maryam Ayuni – Direktur Konservasi Energi, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi - Kementerian ESDM, Melany Tedja Co-Team Leader EINCOPS dan Ir.H.Tohar Suhartono, IP.MTWakil Ketua Umum Bidang Kelistrikan Pertambangan dan Energi KADIN Sumatera Utara.

Pekan Efisiensi Energi di Medan ini diselenggarakan dengan dukungan dari Pemerintah Denmark, dalam bentuk kerjasama antar-pemerintah melalui kegiatan Energy Efficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS) serta International Finance Corporation (IFC).  Roadshow Pekan Efisiensi Energi di Medan merupakan penutup rangkaian kegiatan Roadshow Pekan Efisiensi Energi yang berlangsung di Sembilan Propinsi di Indonesia (Jakarta, Makassar, Bali, Batam, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Palembang dan Medan).

Pekan Efisiensi Energi akan diselenggarakan selama empat hari. Kegiatan hari pertama ditujukan untuk eksekutif / top manajemen perusahaan untuk meningkatkan pemahaman mengenai potensi efisiensi energi di industri. Sedangkan kegiatan hari kedua hingga keempat ditujukan bagi manajer energi sebagai pembekalan untuk mekanisme sertifikasi manajer energi tingkat nasional.

“Konservasi energi, membutuhkan perubahan paradigma pengelolaan energi yang baru yaitu Demand Side Management yang mengutamakan peningkatan efisiensi pada pengguna energi. Indonesia termasuk negara yang masih boros dalam penggunaan energi, hal ini dapat dilihat dari angka elastisitas energi yang masih lebih besar dari 1. Dalam menggalakkan konservasi energi ini, diperlukan peran serta seluruh pihak, khususnya pihak industri. Dari keseluruhan kelompok pengguna energi, pengguna energi terbesar adalah kelompok industri yang mencapai 40% dari total konsumsi energi.” jelas Ir. Maryam Ayuni - Direktur Konservasi Energi, Kementerian ESDM saat membuka acara.

“Pada tahun 2006-2009, JICA bekerjasama dengan Kementerian ESDM telah melakukan studi audit energi di sektor industri dan diperoleh hasil bahwa total konsumsi energi  adalah 27 Juta TOE per tahun, dengan potensi penghematan energi sebesar 18%. Penghematan ini sebesar 5 Juta TOE atau setara 58 TWh per tahun. Apabila penghematan ini berhasil dilakukan maka akan sama halnya dengan menunda pembangunan pembangkit listrik sebesar 58 TWh / (24 X 365) = 6.600 MW,” tambah Ayuni.

“Memperkenalkan efisiensi energi merupakan elemen yang sangat penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus untuk mengurangi produksi energi - sehingga menjadi tujuan yang sangat ekonomis dan bermanfaat untuk mengurangi pengeluaran pemerintah secara keseluruhan dalam usaha untuk menyediakan energi untuk sektor rumah tangga, bisnis dan kantor pemerintah sendiri. Denmark mempunyai sejarah panjang untuk efisiensi energi dan Denmark mampu menjaga konsumsi energi nasional secara konstan selama hampir 30 tahun (dari pertengahan tahun 70-an hingga pertengahan 2010-an) yang nilainya hampir dua kali lipat Produk Domestik Bruto dalam periode waktu yang sama. Perilaku lebih efisien dalam pemanfaatan energi menjadi faktor utama. “ jelas Mr. Tim Mac Hansen - Counsellor-Trade and Development Royal Danish Embassy.

Sementara itu Melany Tedja Co-Tem Leader EINCOPS menambahkan, menurut data Master Plan Pembangunan Ketenagalistrikan 2010-2014, yang dibuat oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, pada tahun 2009 kondisi tiga sistem yang memasok tenaga listrik ke Sumatera Utara berada dalam kondisi 'defisit' (terjadi pemadaman sebagian pelanggan karena daya mampu lebih kecil dari kebutuhan beban puncak). Sampai dengan tahun 2011, rasio elektrifikasi di Sumatera Selatan baru mencapai 79.05%. Sementara itu, permintaan energi listrik diperkirakan akan terus tumbuh rata-rata sebesar 7.3% per tahun untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk (diperkirakan rata-rata 1.0%/tahun) dan pertumbuhan ekonomi (diperkirakan rata-rata sebesar 6.7%/tahun).

 “Oleh karena itu, tidak cukup untuk Sumatera Utara hanya menambah pembangkit dan mengatasi sisi suplai energi. Diperlukan juga upaya untuk mengatasi pertumbuhan konsumsi tanpa mengkompromikan pertumbuhan ekonomi dengan efisiensi energi, khususnya di sektor Rumah Tangga dan sektor Industri, kedua sektor yang mengkonsumsi listrik paling besar menurut data BPS 2004-2009.” tambah Melany.

Sumatera Utara memiliki banyak industri yang mengkonsumsi energi cukup besar, memiliki pertumbuhan energi yang tinggi dan akan sangat terbantu dengan program konservasi energi dalam pemenuhan permintaan listrik propinsi ini. Itu sebabnya, Pekan Efisiensi Energi ini dilakukan di Sumatera Utara, sebagai propinsi kesembilan (atau propinsi terakhir) yang juga merupakan penutup dari rangkaian Sembilan propinsi dari Roadshow Pekan Energi Efisiensi ini.

Pengguna energi terbesar di Indonesia adalah sektor industri dengan pertumbuhan 39,6% di tahun 1990 menjadi 51,86% pada tahun 2009, atau lebih dari setengah penggunaan total energi nasional. Pengguna terbesar berikutnya adalah sektor transportasi dengan 30,77%, diikuti dengan sektor rumah tangga sebesar 13,08% dan sektor komersial sebanyak 4,28%. (Sumber: Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2010).

Saat ini penyediaan energi Indonesia masih sangat tergantung pada energi fosil yang disubsidi (95.21%). Sementara konsumsi energi naik sebesar 7% setiap tahunnya Sedangkan energi terbarukan hanya dipandang sebagai alternatif dan penggunaan energi dilakukan secara tidak efisien. Untuk itu diperlukan perubahan paradigma dari supply side management ke arah demand side management yang memfokuskan pada konservasi energi pada sektor pengguna dan pemanfaatan energi terbarukan secara optimal.

Pekan Efisiensi ini adalah salah satu kegiatan untuk mensosialisasikan efisiensi dan konservasi energi di Indonesia. Peran aktif ini dilakukan oleh Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI) yang diluncurkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral didukung oleh Pemerintah Denmark melalui DANIDA (Danish International Development Assistance) pada bulan Maret 2011 lalu. Untuk mengembangkan program efisiensi dan konservasi energi di Indonesia, pemerintah Denmark melalui Kedutaan Denmark di Indonesia, telah memberikan bantuan dana senilai US$ 10 Juta untuk kurun waktu empat tahun program.

Tags: -